Penukil : Abu Hamzah Al-indrimi
Bukan hanya para ‘Caleg’ yang ge-tol bermanis mulut dan tebar pesona jelang pemilihan gubernur yang kini se-dang musimnya dan pemilu 2009 nanti, namun kebodohan juga, bisa menebar pesona. Ya iya lah, kita-kitanya saja yang nggak melek and mmoh! Bahkan ter-kadang dan tak disadari kita pun tertipu dengan keadaan ini. Ya, kita sering ber-ada dalam jerat tipuan diri, suatu ke-bodohan diri yang sering diselimuti de-ngan perasaan merasa lebih hebat, me-rasa lebih pinter, merasa sudah takwa, dan sok ngerasa-ngerasa yang lainnya dech! Tul ga’ nich? nah sobat, claim-claim itulah yang sebenarnya kebodo-han, merasa diri sudah pintar, justru itulah kebodohan!
Idola kita yaitu Nabi Muhammad bersabda, ”Barangsiapa yang dikenda-ki oleh Alloh menjadi baik, maka Dia memberi kefahaman ilmu (masalah) aga-ma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa penyebab dari kebodohan ter-sebut? Betul… Seratus buat kamu sobat, seribu buat Ka_Ge. He… he…, ya sum-ber dari segala penyebabnya adalah ka-rena tidak mau belajar! Simpel memang. Makanya kita harus sering-sering meng-upgrade terus semangat dan hobi be-lajar kita! Yuk mencari ilmu! Kita jadi-kan ilmu dan belajar lebih bermakna ketimbang sepotong ayam bakar atau semangkuk bakso! Krubuk… krubukk… loh kok? Lapeeer?
Ilmu apa sobat? Ini pun harus kita tanya dan rinci terlebih dahulu, tul gak? Karena banyak sekali ilmu-ilmu yang tersebar dan kita jumpai. Ilmunya pa-ranormal ya … perdukunan, komu-nitas maling keahliannya dalam mencuri, dan sederet jabatan sesat lainnya. Gawat dah!
Alloh berfirman, ”Katakanlah; samakah orang-orang yang menge-tahui dan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar:9)
Jelas beda dong…, gelapnya ke-bodohan tidak sama dengan terang benderangnya ilmu pengetahuan? Hanya mata dan hatinya yang min plus, plus-minus saja alias buta yang nggak bisa bedain. Buktinya, banyak sekali orang besar dan meroket se-mangat menuntut ilmunya namun hasilnya beragam. Ada yang digu-nakan untuk menipu orang, demi keterkenalan, alat meraih tampuk kursi kekuasaan de el el. Capek dech! Tentunya ada pula seabreg tokoh yang sukses, jujur dan berjiwa lurus dalam meniti dan mengamal-kan Islamnya.
Ini, apa artinya sobat? Kita kudu tahu dulu, siapa yang menguasai dan memiliki segala ilmu? Sobat muda, Alloh lah sebagai yang Maha Memiliki ilmu. Barulah kita memintanya! Teruzz, tidak hanya berhenti sampai di situ, kita pun harus melanggengkan permohonan kepada Alloh agar tidak bosan, serta agar tetap ikhlas dan berada di atas jalur yang benar di dalam menun-tut ilmu.
Saudara-saudara kita yang ter-kena fitnah ajaran-ajaran sesat, ke-napa penyebabnya? Pertama, Qo-dho dan Qodar-Nya, kemudian ya, ka-rena kebodohan itu tadi. Karena tidak memiliki ilmu yang benar tentang Alloh ‘Azza wa Jalla, Nabi dan Islam. Wal-hasil ya gitu dech, carut-marutlah ke-agamaan para pengikut al-Qiyadah Is-lamiyah, Ahmadiyah, Edeniyah dan sekte-sekte sesat lainnya.
Yap. Sangat penting buangngett sobat! Ketika kita harus berada di alur kebenaran dalam mencari ilmu. Sum-bernya benar dan pemahamannya pun harus benar. Sekali lagi harus benar! Sa-king pentingnya nih. Jadi Ka_Ge me-wanti-wanti, jangan sampai ada budaya dan trend “ngaco” yang kini beredar di masyarakat, menyusup ke relung hati dan benak kita. Coba saja kita pasang mata, pasang telinga, ada orang yang belajar Islam, sumber rujukannya orang-orang atheis, dan orang-orang kafir ba-rat. Ya nggak nyambung-lah!
By the way…, akibat salahnya ke-tika menuntut ilmu Islam tersebut, ba-nyak orang yang menjadi tokoh, prof. Dr. dan ahli yang katanya “pinter”. Se-pulangnya “mondok” di padepokan pa-man Bush, Blair atau Inglander/ bahe-roh, bukannya menjadi pendekar-pen-dekar pembela Islam, malah seenak ude-lnya pinter melintir-melintir ayat Al-Qur’an potong sana-sini, menghina Alloh , Nabi , dan Islam sekaligus. Hajar aja bams… (maksudnya sobat)! Tak diragukan lagi sobat mereka harus menengok ke belakang. Katakan kepa-da mereka ”Kalian telah salah jalan dan tersesat, ibarat membeli terasi di toko bangunan”.
Nah itu tadi sobat, kita kudu kembali dan harus memiliki prinsip penting. Yaitu benar dalam sumber dan pemahaman dalam berilmu dan mengilmui sesuatu. Hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabatlah sebagai sumber dan pemahaman yang benar untuk me-mahami Islam.
”Ya Alloh penguasa dan pemilik ilmu. karuniai dan cahayailah Kami dengan ilmu-Mu, dan mampukan pula Kami untuk mengamalkannya.”Sobat, masihkah kita memeli-hara kemalasan? Katakan ”No way!” walaupun kebodohan akan tetap menebarkan pesonanya, tetapi tak berlaku bagi dirimu saudaraku….
Sebelum kita sudahi…, yuk kita renungi hadits berikut ini!Rosululloh bersabda, ”Perum-pamaan petunjuk dan ilmu yang diberikan Alloh kepadaku, laksana hujan yang menimpa bumi. Maka sebagian tanah ada yang baik (su-bur), lalu tumbuhlah tumbuh-tum-buhan dan rerumputan yang ba-nyak. Ada pula tanah yang kering tetapi bisa menyimpan air, lalu Alloh memberikan manfaat kepada manu-sia, mereka bisa minum dari air itu, memberi minuman ternak dan ber-tani. Ada lagi air yang menimpa ba-gian bumi lain yang datar dan lunak yang tidak dapat menyimpan air dan tidak dapat menumbuhkan tumbu-han. Demikianlah perumpamaan orang yang berlmu dan mengetahui masalah agama dan mengerjakan-nya dan perumpamaan orang yang tidak menerima petunjuk Alloh yang ditugaskan kepadaku.” (HR. Bukhari)
PESONA KEBODOHAN
PACARAN SIH BOLEH ASALKAN.......
Penukil : Abu Hamzah Al-indrimi
Dari Anas ra, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat itu ialah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, meminum khomer terang-terangan, dan meluasnya perzinahan.” (HR. Bukhari, Fathul Bari 1/178)
Sahabat muda Gerimis, gimana nich kabar kamu semuanya, semoga tetap istiqomah dan stay-tune terus ya di garda terdepan untuk memperjuangkan nilai-nilai tauhid, guna tegaknya syari’at Allah swt di muka bumi, terbangunnya masyarakat Islami serta merumput dan merebak harumnya kehidupan sunnah nabi saw, tetap semangat khan?
Coz Ka_Ge terus menanti partisipasi sahabat semuanya, saran, konsultasi dan kiriman artikelnya. Dengan adanya beberapa permintaan yang masuk ke redaksi, agar bisa mengupas tuntas tentang PACARAN, ya oke deh…! Kita kupas-pas…
Yup… jangan negative thingking dulu donk sobat, tentang judul tebal di atas! Kita kudu tahu dulu maksudnya, gimana maksudnya? Ya…, gitu deh.
Sobat gerimis muda yang cakep and cantik (cakep buat ikhwan, cantik buat akhwat) iya ngga? jangan ge-er gitu lho.
Pada dasarnya, setiap manusia yang terlahirkan itu, sekurangnya memiliki tiga naluriah dasar pada dirinya. Apa tuh…? Satu, naluri untuk bertauhid atau beragama (yang merupakan nilai fithrah tertinggi) Dua, naluri untuk mempertahankan dirinya (seperti keinginan untuk menang dan berprestasi), dan yang ketiga, naluri untuk melestarikan keturunan (example; sifat ke-Ibuan, ke-Bapa-an, dan adanya rasa suka kepada lain jenis).
Nah, berpijak dari naluri yang ketiga inilah, mungkin sebagian remaja muda dan ‘remaja’ berkumis dan beruban bahkan bercucu, sudah bau tanah pun kedapatan masih kita temukan, melegal-kan atau membolehkan berpacaran atau dengan kata lain mengungkapkan rasa cinta dan suka kepada lain jenis. Na’udzubillah. Tidak ada yang menyangkal tentang adanya anggapan bahwa rasa cinta adalah anugerah yang harus disyukuri. We agree friend. Tapi, ada tapinya tuh, apaan? Kalau ekspresi syukur yang terlahirkan adalah adanya pengungkapan rasa cinta kepada lain jenis, terus jadian, janjian dan pada akhirnya akan melahirkan pertemuan. Ya ketemu…an deh! Dari mata turun ke hati, terus ke kali deh, eh, beropra…si deh. Mulai saling lihat, pegangan tangan dan titik-titik dan titik-titik (sensor man)?!!
Berarti kalau demikian, boleh donk pengungkapan rasa cinta tetapi tidak melahirkan hal tersebut! Ya Boleh, tapi harus memenuhi syarat berikut; Pertama, kamu bilang ke bokap and nyokap bahwa kamu sudah siap untuk menikah, Kedua, jika ada someone (gadis atau pemuda) yang kamu sukai, maka kamu dan orang tua datangi orang tua gadis tersebut, bahwa kamu menyukainya, untuk apa? Ya untuk mengkhitbah (melamarnya) doong, terus jarak waktu setelah melamar itu, jangan lama-lama, dan tidak boleh berkholwat (berduaan), apa lagi jalan bareng, dan segala bareng. Kalau ditolak gimana? Ya… tanggung risiko dong! he…he… (sabar githu lo!).
Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat (akhir), janganlah ia bersunyi-sepi berdua-duaan dengan wanita yang tidak disertai muhrimnya, sebab bila demikian, syetanlah yang akan menjadi pihak ketiganya.” (HR. Ahmad)
Praktek pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar berkirim surat, telepon, menjemput, mengantar atau menemani pergi ke suatu tempat, lebih jauh dan kelewatannya, sampai ada yang layaknya pasutri (pasangan suami istri). Na’udzubillah. Dan semua itu adalah pintu-pintu masuk untuk perbuatan zina. Allah swt berfirman, “Dan janganlah mendekati zina…” (QS. Al Isra: 32)
Dikalangan remaja sekarang ini, pacaran menjadi trend dan identitas yang sangat dibanggakan. Tidak sedikit yang mendapat julukan bujang lapuk, kurang gaul dan zomblo, akibat belum punya teman special alias pacar.
Biasanya seorang remaja akan bangga dan ‘pd’ abis jika sudah memiliki pacar, walau pun cinta yang berkisar diantara mereka adalah cinta monyet, lokasi sampai cinta beruk. Kalau cinta gajah dan kuda ada ngga ya? Karena itu, mencari pacar di kalangan remaja tidak saja menjadi sebuah kebutuhan biologis tetapi juga menjadi kebutuhan secara sosial. Ya Allah segitunya…!
Pacaran Islami? Ya tidak ada!Ada yang mengira bahwa pacaran itu ada yang Islami, ketika apel, sebelum masuk rumah si dia, mengucapkan salam terlebih dahulu, terus salaman dan mengucapkan istighfar. Lho kok! Gimana tuh ceritanya? Bukankah itu sebuah pelecehan terhadap Islam?
Rasulullah saw tidak pernah tangannya menyentuh wanita non muhrim. Bahkan beliau menyatakan, lebih baik dibakar atau ditusuk besi membara dari pada harus menyentuh wanita yang bukan haknya.Kalau ditanya maslahat dan mudlorotnya, jelas mudhrotnya yang secara dominan seratus persen. Sahabat pingin tau fitnah dan akibat dari pacaran?
1. Kontak pandangan yang bermuatan syahwatHal ini mustahil bisa terhindarkan ketika sedang berdua-duaan atau jika di sekelilingnya lain jenis. Dan ini merupakan perbuatan haram. Rasulullah saw bersabda, “Pandangan itu adalah anak panah beracun dari anak-anak Iblis, siapa saja yang dapat menghindarkannya karena takut kepada Allah karena ia akan dikaruniakan kelezatan dan manisnya Iman di dalam hatinya.” (HR. Hakim)
2. Kontak fisikYang ini pun tak bisa dielakan ketika berpacaran, dan ketika sedang bergerombolnya antara lain jenis. Padahal Rasulullah saw mengharamkan untuk bersentuhan dengan seseorang yang bukan muhrim. Di sinilah kenapa Rasulullah mengharamkan untuk berikhtilath (bercampur baur lain jenis)
3. ZinaInilah akibat terbesar dan tujuan syetan dibalik goda rayunya yang menggiurkan itu. Hubungan di luar nikah merupakan dosa besar dan perbuatan nista dan aib dihadapan Allah swt.
Nah sahabat muda, ngerikan kita melihat akibatnya? Maka untuk terhindar dari hal tersebut kita harus sebaliknya, dari hal tersebut, jangan berbuat yang mengarah padanya, tidak bersentuhan dengan non muhrim, tidak ikhtilat, khalwat, menundukan pandangan mata (baca QS. An-Nur: 30-31), dan mengenakan hijab (jilbab) syar’i, yang disukai Allah dan Rosul-Nya. (tentang pembahasan jilbab syar’i, Sahabat bisa membacanya di kolom gerimis muda edisi 9 ). Jadi dengan demikian, katakan tidak dan putus hubungan dengan pacaran. Tapi Sahabat, sekarang ada ‘fatwa’ teranyar yang menyatakan, ‘Pacaran itu boleh, asalkan sesudah ‘aqad pernikahan’. Huuh.. He..he.. WAllahu’alam
Ketegori
- DUNIA MUDA (2)
- MUQODIMAH (1)
- Mutiara Hikmah (1)
- Nasehat (1)
- Sajak-sajakku (2)
- SANGGAR KELUARGA (2)
- TERMINAL MUSLIMAH (10)


